Mengungkap persoalan keberagamaan dalam masyarakat nelayan tradisional pada dasarnya adalah membicarakan pengetahuan tradisional nelayan dalam konteks kehidupan lokal. Secara kategoris, kehidupan komunitas nelayan berbeda dengan kehidupan komunitas masyarakat lainnya, seperti masyarakat petani atau pedagang urban. Perbedaan itu terlihat tidak hanya terletak pada gaya hidup dan pola pikir, tetapi juga pada nilai-nilai kebudayaan mereka
Cunha (1997) mengatakan bahwa kelahiran pengetahuan tradisional nelayan banyak didasari karakteristik konteks fisik lautan yang mengelilinginya.Pengetahuan ini diproduksi secara kultural dan diakumulasi melalui pengalaman dan terus menerus dievalusi dan diciptakan kembali berdasarkan fitur lingkungan laut yang bergerak.
Oleh karena itu, wajar jika realitas keyakinan masyakarat nelayan bergantung kepada laut, misalnya, konsepsi tentang adanya kekuatan luar biasa pada laut yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat nelayan di negeri ini Praktik keberagamaan terntentu yang erat kaitannya dengan masyarakat nelayan terjadi hampir di setiap masyarakat.
Namun, sejak berlangsungnya proses penyebaran dan pelembagaan Islam, sebagian besar masyarakat nelayan memeluk Islam. Akan tetapi, apakah komitmen religius mereka murni berlandaskan Islam?
Sejarah mencatat bahwa banyak para wali menyebarkan Islam menggunakan berbagai instrumen kesenian sehingga yang lahir kemudian adalah agama Islam yang tercampur dengan tradisi lokal. Sama halnya seperti di daerah Jawa
menyebarkan Islam melalui media kesenian masyarakat setempat. Hal ini menyebabkan terjadinya proses tarik menarik antara budaya lokal dan budaya luar. Tak jarang, proses ini menghasilkan dinamika budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di dalam kehidupan masyarakat pesisir terdapat praktik-praktik sinkretisme dan atau akulturasi budaya, seperti menjalankan ritual di dalam ajaran Islam, namun masih tetap mempercayai berbagai keyakinan lokal. Rritual-ritual tradisi setempat itu diwariskan turun temurun dari leluhur, seperti pesta laut atau Nadran, membakar kemenyan sebelum melaut, menggunakan jimat-jimat tertentu untuk menguatkan fisik dan sebagainya merupakan beberapa tradisi lokal yang diyakini oleh para nelayan mampu menambah berkah. Mereka mempercayai bahwa ada suatu kekuatan gaib yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Dan jika kita mengkaitkannya dengan dunia dakwah maka masyarakat setempat akan dengan mudah menerima ajakan kita, karena merek mempercayai bahwa ada suatu kekuatan gaib yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Dengan adanya kejadian ini maka seorang mubaligh akan bisa melakukan pendekatan dengan cara mengenalkan kekuatan Allah SWT-lah yang mereka temukan dimuka bumi ini, dengan melakukan pendekatan-pendekatan berdasarkan kejadian yang mereka alami dikehidupan laut mereka.(ibayMS)
kayanya ne deket rumah ibay da.....
BalasHapushoho