Wahai Kau yang dibelenggu rantai takut dan gelisah
Pelajarilah mutu kata nabawi: “Laa Tahzan”
Jangan takut tak berketentuan
Jika adalah padamu Tuhan Yang Maha Kuasa
Lemparkanlah jauh-jauh segala takut dan bimbang
Lemparkanlah cita untung dan rugi
Kuatkan iman sekuat tenaga
Dan kesankanlah berkali-kali dalam jiwamu :”Laa Khaufun Alaihim”
Tiada resah dan gentar pada mereka bagi zaman yang akan datang
Bila Musa pergi kepada fir’aun
Hatinya membaja oleh mutu kata : “laa Takhaf jangan lah takut dan bimbang
Siapa yang telah mempunyai semangat al-MusthafaMelihat syirik dalam setiap denyut dan luapan takut bimbang
Senin, 13 Juni 2011
Minggu, 12 Juni 2011
Dakwah Menjadi Sumber Kendali dan Sangsi Sosial
Islam yang berpedoman kepada Al-quran dan hadits yang menjadikan manusia sebagai kholifah dimuka bumi ini yang akan menuntun jalan hidupnya dengan menggunakan Dakwah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Dakwah sebagai Sumber kendali dan Sangsi sosial itu terbukti dengan cara seorang Mubaligh melakukan syiar keislaman yang berpedoman kepada Al-quran dan Hadits, sehingga benar adanya jika Dakwah bisa di jadikan sebagai sumber kendali dan sangsi sosial.
Salah satu contoh Dakwah sebagai sumber kendali ialah disaat suatu kelompok yang terbiasa melakukan kesalahan dan menjadikan kesalahan itu sebagai kegiatan rutinitas dan bahkan wajib hukumnya untuk dilakukan, dan seorang mubaligh atau Da’i biasanya melakukan pelurusan-pelurusan terhadap kelompok tersebut dan memberikan motivasi dan pendekatan kepada mereka, dan banyak pula masyarakat yang menjadikan Dakwah sebagai Sumbur referensi sebagai tindakan penyelesaian masalah.
Salah satu contoh lagi ialah banyak orang-orang yang menanyakan cara penyelesaian masalah dengan bertanya kepada Ustadz atau Ustadzah secara langsung melalui telepon yang biasanya dilakukan di acara ceramah agama yang diadakan ditelevisi yang disiarkan secara langsung, mereka yang bertanya biasanya bertanya atas kejadian yang benar-benar terjadi pada hidupnya atau bahkan pada kehidupan kerabatnya, sehingga mereka menanyakan hal-hal tersebut untuk menjadikannya sebagai landasan mereka bertindak.
Konsep Tanya-jawab didalam acara ini pun biasanya banyak digunakan oleh Mad’u untuk mertanya bagaimana cara menjalani hidup dengan benar dan sebagainya. Jadi jelas jika Dakwah itu bisa dijadikan sebagai Sumber Kendali.
Dan contoh sangsi sosial sebagai dakwah ialah ketika kepolisian memberi hukuman kepada seorang Gayus selama 7 tahun menjadi polemik tersendiri dikalang masyarkat yaitu ketidak adilan hokum terhadap kasus yang menimpa Gayus tambunan, aksi-aksi masyarakatpun berfariatif dalam menanggapi kasus ini ada yang melakukan protes melalui drama komedi, melalui iklan, dan bahkan ada yang menanggapinya melalui lagu yang menyindir betapa hebatnya seorang gayus yang dapat hidup senang walupun berada didalam kurungan.
Dan kejadian ini secara tidak sadar mengajak dakwah ajakan kepada para pejabat untuk tidak melakukan tindakkan yang sama dengan Gayus S Tambunan. Dan walaupun Gayus mendapatkan kebahagian di dunia ini tapi belum tentu dia mendapatkan kebahagian di akhirat nanti.
Sehingga Mubaligh haruslah mengajak Mad`u untuk tetap berada diatas jalan kebenaran.
Dakwah sebagai Sumber kendali dan Sangsi sosial itu terbukti dengan cara seorang Mubaligh melakukan syiar keislaman yang berpedoman kepada Al-quran dan Hadits, sehingga benar adanya jika Dakwah bisa di jadikan sebagai sumber kendali dan sangsi sosial.
Salah satu contoh Dakwah sebagai sumber kendali ialah disaat suatu kelompok yang terbiasa melakukan kesalahan dan menjadikan kesalahan itu sebagai kegiatan rutinitas dan bahkan wajib hukumnya untuk dilakukan, dan seorang mubaligh atau Da’i biasanya melakukan pelurusan-pelurusan terhadap kelompok tersebut dan memberikan motivasi dan pendekatan kepada mereka, dan banyak pula masyarakat yang menjadikan Dakwah sebagai Sumbur referensi sebagai tindakan penyelesaian masalah.
Salah satu contoh lagi ialah banyak orang-orang yang menanyakan cara penyelesaian masalah dengan bertanya kepada Ustadz atau Ustadzah secara langsung melalui telepon yang biasanya dilakukan di acara ceramah agama yang diadakan ditelevisi yang disiarkan secara langsung, mereka yang bertanya biasanya bertanya atas kejadian yang benar-benar terjadi pada hidupnya atau bahkan pada kehidupan kerabatnya, sehingga mereka menanyakan hal-hal tersebut untuk menjadikannya sebagai landasan mereka bertindak.
Konsep Tanya-jawab didalam acara ini pun biasanya banyak digunakan oleh Mad’u untuk mertanya bagaimana cara menjalani hidup dengan benar dan sebagainya. Jadi jelas jika Dakwah itu bisa dijadikan sebagai Sumber Kendali.
Dan contoh sangsi sosial sebagai dakwah ialah ketika kepolisian memberi hukuman kepada seorang Gayus selama 7 tahun menjadi polemik tersendiri dikalang masyarkat yaitu ketidak adilan hokum terhadap kasus yang menimpa Gayus tambunan, aksi-aksi masyarakatpun berfariatif dalam menanggapi kasus ini ada yang melakukan protes melalui drama komedi, melalui iklan, dan bahkan ada yang menanggapinya melalui lagu yang menyindir betapa hebatnya seorang gayus yang dapat hidup senang walupun berada didalam kurungan.
Dan kejadian ini secara tidak sadar mengajak dakwah ajakan kepada para pejabat untuk tidak melakukan tindakkan yang sama dengan Gayus S Tambunan. Dan walaupun Gayus mendapatkan kebahagian di dunia ini tapi belum tentu dia mendapatkan kebahagian di akhirat nanti.
Sehingga Mubaligh haruslah mengajak Mad`u untuk tetap berada diatas jalan kebenaran.
BUDAYA LOKAL SEBAGAI SASARAN DAKWAH
Mengungkap persoalan keberagamaan dalam masyarakat nelayan tradisional pada dasarnya adalah membicarakan pengetahuan tradisional nelayan dalam konteks kehidupan lokal. Secara kategoris, kehidupan komunitas nelayan berbeda dengan kehidupan komunitas masyarakat lainnya, seperti masyarakat petani atau pedagang urban. Perbedaan itu terlihat tidak hanya terletak pada gaya hidup dan pola pikir, tetapi juga pada nilai-nilai kebudayaan mereka
Cunha (1997) mengatakan bahwa kelahiran pengetahuan tradisional nelayan banyak didasari karakteristik konteks fisik lautan yang mengelilinginya.Pengetahuan ini diproduksi secara kultural dan diakumulasi melalui pengalaman dan terus menerus dievalusi dan diciptakan kembali berdasarkan fitur lingkungan laut yang bergerak.
Oleh karena itu, wajar jika realitas keyakinan masyakarat nelayan bergantung kepada laut, misalnya, konsepsi tentang adanya kekuatan luar biasa pada laut yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat nelayan di negeri ini Praktik keberagamaan terntentu yang erat kaitannya dengan masyarakat nelayan terjadi hampir di setiap masyarakat.
Namun, sejak berlangsungnya proses penyebaran dan pelembagaan Islam, sebagian besar masyarakat nelayan memeluk Islam. Akan tetapi, apakah komitmen religius mereka murni berlandaskan Islam?
Sejarah mencatat bahwa banyak para wali menyebarkan Islam menggunakan berbagai instrumen kesenian sehingga yang lahir kemudian adalah agama Islam yang tercampur dengan tradisi lokal. Sama halnya seperti di daerah Jawa
menyebarkan Islam melalui media kesenian masyarakat setempat. Hal ini menyebabkan terjadinya proses tarik menarik antara budaya lokal dan budaya luar. Tak jarang, proses ini menghasilkan dinamika budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di dalam kehidupan masyarakat pesisir terdapat praktik-praktik sinkretisme dan atau akulturasi budaya, seperti menjalankan ritual di dalam ajaran Islam, namun masih tetap mempercayai berbagai keyakinan lokal. Rritual-ritual tradisi setempat itu diwariskan turun temurun dari leluhur, seperti pesta laut atau Nadran, membakar kemenyan sebelum melaut, menggunakan jimat-jimat tertentu untuk menguatkan fisik dan sebagainya merupakan beberapa tradisi lokal yang diyakini oleh para nelayan mampu menambah berkah. Mereka mempercayai bahwa ada suatu kekuatan gaib yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Dan jika kita mengkaitkannya dengan dunia dakwah maka masyarakat setempat akan dengan mudah menerima ajakan kita, karena merek mempercayai bahwa ada suatu kekuatan gaib yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Dengan adanya kejadian ini maka seorang mubaligh akan bisa melakukan pendekatan dengan cara mengenalkan kekuatan Allah SWT-lah yang mereka temukan dimuka bumi ini, dengan melakukan pendekatan-pendekatan berdasarkan kejadian yang mereka alami dikehidupan laut mereka.(ibayMS)
BUDAYA LOKAL SEBAGAI SASARAN DAKWAH
Mengungkap persoalan keberagamaan dalam masyarakat nelayan tradisional pada dasarnya adalah membicarakan pengetahuan tradisional nelayan dalam konteks kehidupan lokal. Secara kategoris, kehidupan komunitas nelayan berbeda dengan kehidupan komunitas masyarakat lainnya, seperti masyarakat petani atau pedagang urban. Perbedaan itu terlihat tidak hanya terletak pada gaya hidup dan pola pikir, tetapi juga pada nilai-nilai kebudayaan mereka
Cunha (1997) mengatakan bahwa kelahiran pengetahuan tradisional nelayan banyak didasari karakteristik konteks fisik lautan yang mengelilinginya.Pengetahuan ini diproduksi secara kultural dan diakumulasi melalui pengalaman dan terus menerus dievalusi dan diciptakan kembali berdasarkan fitur lingkungan laut yang bergerak.
Oleh karena itu, wajar jika realitas keyakinan masyakarat nelayan bergantung kepada laut, misalnya, konsepsi tentang adanya kekuatan luar biasa pada laut yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat nelayan di negeri ini Praktik keberagamaan terntentu yang erat kaitannya dengan masyarakat nelayan terjadi hampir di setiap masyarakat.
Namun, sejak berlangsungnya proses penyebaran dan pelembagaan Islam, sebagian besar masyarakat nelayan memeluk Islam. Akan tetapi, apakah komitmen religius mereka murni berlandaskan Islam?
Sejarah mencatat bahwa banyak para wali menyebarkan Islam menggunakan berbagai instrumen kesenian sehingga yang lahir kemudian adalah agama Islam yang tercampur dengan tradisi lokal. Sama halnya seperti di daerah Jawa
menyebarkan Islam melalui media kesenian masyarakat setempat. Hal ini menyebabkan terjadinya proses tarik menarik antara budaya lokal dan budaya luar. Tak jarang, proses ini menghasilkan dinamika budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di dalam kehidupan masyarakat pesisir terdapat praktik-praktik sinkretisme dan atau akulturasi budaya, seperti menjalankan ritual di dalam ajaran Islam, namun masih tetap mempercayai berbagai keyakinan lokal. Rritual-ritual tradisi setempat itu diwariskan turun temurun dari leluhur, seperti pesta laut atau Nadran, membakar kemenyan sebelum melaut, menggunakan jimat-jimat tertentu untuk menguatkan fisik dan sebagainya merupakan beberapa tradisi lokal yang diyakini oleh para nelayan mampu menambah berkah. Mereka mempercayai bahwa ada suatu kekuatan gaib yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Dan jika kita mengkaitkannya dengan dunia dakwah maka masyarakat setempat akan dengan mudah menerima ajakan kita, karena merek mempercayai bahwa ada suatu kekuatan gaib yang tidak terjelaskan oleh akal, tidak mampu mereka visualisasikan, tapi mereka sungguh-sungguh meyakininya dalam hati.
Dengan adanya kejadian ini maka seorang mubaligh akan bisa melakukan pendekatan dengan cara mengenalkan kekuatan Allah SWT-lah yang mereka temukan dimuka bumi ini, dengan melakukan pendekatan-pendekatan berdasarkan kejadian yang mereka alami dikehidupan laut mereka.(ibayMS)
Hikmah
Dibalik Hikmah Kematian
Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.
Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.
Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.
Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.
Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.
Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.
Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?
Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.
Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.
Langganan:
Komentar (Atom)
